Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, 21 December 2012

Sesosok Hujan datang menawarkan cinta. #2



Malu-malu kupeluk hujan yang mampir,
Maksud diri menampung kasih disudut hati.
Diseberang jalan jauh-menjauhi tubuhnya berarak pergi.
Beralih ke belahan yang lain.
Tetesan air mata jatuh tanda dia bukan yang terkasih. 



Makassar, 12/21/2012 10:04:31 PM



Wednesday, 19 December 2012

Sesosok Hujan datang menawarkan cinta. #1

Aku mencinta pada sesosok hujan,
Merintik rupawan dibalik bola mata,
Mendebarkan dada di tiap lirikan anggunnya.
Sentuhannya, menggersangkan dahaga seketika.
Diam-diam kala itu cinta bersemi bersama cumbuan basah.

Tuesday, 18 December 2012

Parodi Cinta



Sesal terasa mengutuk asa.
Menyerah pasrah diujung rasa.
Kau tak tahu aku pada akhir cerita.
Sia-sia aku mengasah kisah cinta.

Jalan setapak kian menerjal.
Harap-harap tubuh terjemput ajal.
Kesendirian mematikan sepi.
Meski kau tak lagi ada disisi.

Lembar-lembar putih ternoda jua
Di saat tubuhmu memeluk mesra padanya,
Kudapati di sendu peraduan senja.
Diam-diam malam terpaksa menina-bobokan derita.

Pernah terucap kata rayu
Di tafsirkan salah oleh diriku
Ternyata dia yang kau tuju.
Di sudut lirik matamu berbisik cumbu.

Pintu rapuh berderit kaku
Menutup panjang ujung usiaku
Tak perlu lagi tamu berkunjung
Karena si pemilik kini berkabung
Mati sekali cukup menyita masa
Namun penyesalan tidak akan memaksa
Karena ini bukan hati yang salah
Hanya saja cinta yang memilih.

Maros 10/13/2012 10:31:26 PM

Thursday, 28 June 2012

Aku ingin menulis!



Aku ingin menulis! Kau tahu tentang apa?
Tentang sebuah cerita sederhana di ujung pena sayatanmu.
Yang pernah kau beri bertepatan di suatu malam gelap,
Dengan iringan cahaya kemerahan pelita yang usang
Sembari tersenyum, malu-malu tertunduk kau selipkan ia di saku.
Berangkat dari sana, ku coba tulis kisah ini diatas kertas.
Agar kelak hatimu senantiasa meliriknya.

Kau bertanya mengapa ku pilih kertas berdekatan dada kirimu.
Bukan karena ada hati di bilik rusukmu.
Biar mudah bagimu mengingat larik perlarik peristiwa itu.
menguntai perlahan kata demi kata, kau menghapalnya.
Dan kelak dirimu terenyuh dikala khilaf dan risau mendekat.

Aku ingin menulis! Namun hardikkan runcing penamu memecah.
Mencari ide disetubuhi di garisan hitam terkasih.
Maka berlalulalanglah sesibuk dijalan pemikiranku,
Dan mengalir pulalah bak air bermuara dihilir
Hingga ku genggam satu dengan kepalan,
Kemudian terlempar di putihnya barik, kau terangkai.
Di penghujung cerita, meski lelet di jam-jam padat.
Oleh sebuah kisah romantis tentang kita.
Menjelmalah sebagai pendamping setia untukku.

Makassar, 6/26/2012 11:40:46 AM

Wednesday, 27 June 2012

Ku Duga-Duga Hitam Pekatmu



Rasanya sudah lama aku ingin menulis ini untukmu,sayang. Sebuah puisi sederhana yang ku ibaratkan jembatan antara jarak diantara kita. Semoga kau tahu perasaanku. Dan aku menunggumu tersandung kemudian berteriak: “aku pulang!” dengan senyuman.

Ku duga duga hitam pekatmu
Untuk nirwana
Aku merindu masa lampau jauh hari,
Ketika bayangmu bertautan meminta ditengok.
Pada rintihan yang sempat kau maki,
dilolongan anjing terbuang sore itu.
Sembari sesekali kutuk--mengutuk bersusulan tuk terkasih.
Meski diakhiri ujung tawa bahak yang bergemuruh riuh.

Aku berpikir pertemuan hanyalah cerita gantung tanpa jeda
seperti kapas-kapas putih di atas gerai kanvas biru yang lebar.
berarak perlahan,  sedikit dan merangkul diawal dan akhiran
hingga dipenghujung titik, sulit bagimu menebak kisahnya

itu dulu, dikala masa mengenalmu dahulu.
kini duga-duga datang menduga.
Memeluk punggung dan berbisik mesra
Aku yang salah di aturan pertama
Membiarkan jerat melilit diriku.

Dan duga-duga makin tergugah
Bukan hanya hitam pekat namun juga membiru
Jarak sebentar diantara kita
Tak hanya kutempuh tapi tersesat dalam sebuah praduga.

Makassar, 6/26/2012 1:44:14 PM

Sunday, 24 June 2012

Dosa Malam


Malam...

Kau desahkan rayu hinamu di kuping kanan,

Hingga nafas mendesah panjang.

Menjilati perlahan pori-pori kulit,

Meneruskan nafsu cumbu dalam dekapan.

Malam,

Kau getarkan dinding-dinding kelamin,

Dalam runtuhan surga firdaus di suatu kisah lama.

Dan kini, dosa…

Menghempas dibilik indahnya neraka,

Melahirkan darah dan daging.

Dibalutan kesalahan.

Dalam genggaman dosa malam.

Tuesday, 26 April 2011

Kasih Hawa



Ia berjalan bertelanjang kaki.
Hanya untuk mencari sesuap nasi tuk naknya.
Jerit tangis di pangkuan lebih menikam rasanya,
dari goresan duri yang mengiris kulit.

Ia berjalan tanpa kemis kasihmu.
Bukan untuknya tetapi darah dagingnya,
Yang merontah sehari demi susu.

Ia berjalan bercucur peluh.
Mengais rejeki demi buah hati.
Hanya untuknya, untuknya dan untuknya.
Kar’na itulah hidup baginya.


Nb:
Puisi ini sengaja kubuat untuk perempuan-perempuan tangguhku.


Makassar,4/22/2011 12:57:56 AM

Saturday, 23 April 2011

Cinta Bodohku



Bodoh, ku beli di toserba Mahal.
“Kau tau untuk apa?”
Hanya—agar kau dapat melihatku.
Berdiri disamping,
Tepat diurat lehermu.

Bodoh, ku cuci dua kali sehari,
Dengan detergen sebungkus.
Parfum sebotol.
Malang, hatimu buta.
Sebuta matamu.

“Bodoh!  kau bodoh”
Telah ku lipat rapi sehabis disetrika.
Sayang, tak jua kau sadari.
Dag-dig-dug, dadamu berdetak.

Sunday, 17 April 2011

Hanya ada aku, kau dan kita

Tawa kita kebahagian kita -wana, uthie, kamal dan imoet-


Diruangan 4x3 meter ini kita berbagi segalanya.
Luar dan dalam tanpa seutas benang yang menutupi.
Kau berceloteh tentang kemunafikan yang tak henti,
Ku cerna dengan mata dan telinganku.
Sesekali kau lupa memakai tanda koma dan spasi di dalam cerita.
Katamu tak banyak waktu yang tersisa.
Fajar segera menyingsing, hidup tinggal sepersekian dentingan detik.

Diruang tembok penuh coretan ini kita menoreh cerita.
Terbaring di tegel penuh darah dan nanah.
Kau berkata, “aku sayang kalian”.
Kami hanya menengadah, memandang bintang imajinasi.
“Ini aku, ini kau dan ini kita”, Tunjukku ke langit atap malam.
Ia berpendar membentuk lingkaran.
Tanpa awalan dan akhiran.
Maka kata-kata pun tak mampu melukiskannya.
Perasaanku, kau dan kita.

Wednesday, 17 November 2010

Ordinary Person

ketika lagi asyik-asyiknya memberes-bereskan rumah, tiba-tiba saya menemukan sebuah puisi yg tercoret kertas usang...tanpa judul, tapi cukup bermakna walaupun banyak menggunakan kata-kata yang terkesan "harsh" well, tidak menutup kemungkinan puisinya tak berterima. Inilah penggalan puisi tersebut.


I’m a slut
Cause I’ll wear shorts and a tanktop
I’m a bitch
Cause I don’t let you push me around
I’m a liar
Cause I won’t tell you everything
I’m stupid
Cause sometimes I’m wrong
I’m a whore
Cause I can get with any guy
I’m controling
Cause I get mad sometimes
I’m clingy
Cause I like to be around people
I’m greedy
Cause I like to be satisfied
I’m conceited
Cause I’m proud if who I am
I’m rude
Cause my manners aren’t perfect